Kamis, 19 Mei 2011

Trauma dan akan terus menjadi trauma, huaaahhhh!!!!

Entah kenapa gw selalu merasakan ketakutan setiap melewati student center FMIPA. Bahkan kalau dari Fateta ingin ke arah gymnasium, gw lebih memilih arah memutar lewat Fahutan. Ketakutan yang sama aku hadapi setiap membuka jejaring social facebook. Takut membaca status-status orang, karena takut status **** terbaca. Status yang selalu penuh makna ambigu dan kerap membingungkan gw yang selalu khawatir terhadap hal-hal yang tidak pasti.

Aku jadi ingat kata-kata dia dulu, sesuatu yang tidak pasti itu sangat membuat tidak enak.. Kini gw merasakan hal tersebut sepenuhnya... trauma,, dan akan terus menjadi trauma..

*seketika aku merasakan bahagia seketika pula aku merasakan kecemasan. hidup seperti ini sungguh memuakkan!!!!!*


(diiringi lagu Chrisye - Kangen)


Selasa, 03 Mei 2011

Kupu-kupu Kertas

Warnanya putih, sayapnya rupawan meski tak seimbang. Tangan mungil bocah kecil membentuknya sedemikian rupa hingga rampung. Kupu-kupu kertas, begitulah sebutannya.

Dengan bermodalkan kertas putih satu lembar saja, si anak bisa membuat dua buah kupu-kupu kertas. Dia menggantungnya di jendela kamarnya. Setiap hari bertambah banyak. Kupu-kupu kertas di jendelanya beruntai dengan jumlah yang tidak sama. Untaian pertama berjumlah 15 buah, untaian berikutnya ada yang berjumlah 10, ada juga yang 5.

Setelah selesai, si anak mengambil selembar kertas lagi. Ia merobek kertas itu menjadi dua bagian. Melipatnya kesana kemari, membentuk kembali dua buah kupu-kupu kertas.

Angin meniupkan kupu-kupu kertas di jendela. Untaian tampak kokoh sehingga tak goyah walau diterpanya. Angin mengguncangkan pohonan, menyahut kesunyian pondok besar megah. Pondok alam dari jerami namun tampak megah bagi insan penuh syukur.

Kupu-kupu kertas terlahir kembali dari tangan bocah kecil. Angin iri melihatnya. Ia menuntun awan kelam membawa butiran air yang berat ke atas pondokan. Bagai lampu dunia gemerlap air melemparkan amarah. Ia tumpahkan kekesalannya, laksana bah menerpa bumi.

Untaian tetap kokoh, namun tanpa kupu-kupu kertas. Kupu-kupu kertas tergolek tak berdaya di atas lantai kelabu. Si anak bengong melihatnya. Ia mengambil selembar kertas kembali dan dibentuknya menjadi kupu-kupu kertas yang baru.

Sementara langit masih menuangkan amarah, si anak menggantungkan kupu-kupu kertas yang baru itu dalam untaian panjang di jendela kamarnya. Amukan langit kembali menggolekkan kupu-kupu kertas itu dan membumikannya.

Si anak tidak berhenti mengambil selembar kertas, lalu dibentuk lagi menjadi dua buah kupu-kupu kertas. Menggantungkannya di untaian jendela, dan terhempas di lantai dingin. Begitu seterusnya, begitu seterusnya. Hingga akhirnya angin mengalah. Melalui celah pohonan ia melesat menjauh, malu, tabu untuk menatap balik.
Si anak berdiri. Di raihnya kupu-kupu kertas yang terbaring di lantai yang dingin. Dia membentuknya lagi menjadi kupu-kupu kertas seadanya. Walau sobek, basah, lusuh, dia tetap membentuk dan menggantungnya dalam untai benang kasur di jendela.

Seraya membuat kupu-kupu kertas itu terhidup kembali, ia mendendangkan beberapa bait nada sumbang

Hei, si cicak selalu diganggu buaya, namun dia selalu bisa menang. Hei dia banyak akalnya, tak ragu putuskan ekornya. Hei, mimpi-mimpi yang merangkai jutaan kisah hidupnya. Hei, engkau terwujud karena perlawanan, bukan dengan kekerasan.

23-11-2009

Selasa, 12 April 2011

It's all because love

*Judul Asli : Kisah cinta sahabat Nabi, salman al farizi "Argumentasi, Lelaki Shalih, dan Cinta"*

“Bila seorang laki-laki yang kamu ridhai agama dan akhlaqnya meminang,” kata Rasulullah mengandaikan sebuah kejadian sebagaimana dinukil Imam At Tirmidzi, “Maka, nikahkanlah dia.” Rasulullah memaksudkan perkataannya tentang lelaki shalih yang datang meminang putri seseorang.

“Apabila engkau tidak menikahkannya,” lanjut beliau tentang pinangan lelaki shalih itu, “Niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang meluas.” Di sini Rasulullah mengabarkan sebuah ancaman atau konsekuensi jika pinangan lelaki shalih itu ditolak oleh pihak yang dipinang. Ancamannya disebutkan secara umum berupa fitnah di muka bumi dan meluasnya kerusakan.

Bisa jadi perkataan Rasulullah ini menjadi hal yang sangat berat bagi para orangtua dan putri-putri mereka, terlebih lagi jika ancaman jika tidak menurutinya adalah fitnah dan kerusakan yang meluas di muka bumi. Kita bisa mengira-ngira jenis kerusakan apa yang akan muncul jika seseorang yang berniat melamar seseorang karena mempertahankan kesucian dirinya dan dihalang-halangi serta dipersulit urusan pernikahannya. Inilah salah satu jenis kerusakan yang banyak terjadi di dunia modern ini, meskipun banyak di antara mereka tidak meminang siapapun.

“Saya,” katanya dengan aksen Madinah memperkenalkan diri pada pihak perempuan, “Adalah Abud Darda’."

“Dan ini,” ujarnya seraya memperkenalkan si pelamar, “Adalah saudara saya, Salman Al Farisi.” Yang diperkenalkan tetap membisu. Jantungnya berdebar.

“Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya,” tutur Abud Darda’ dengan fasih dan terang.

“Adalah kehormatan bagi kami,” jawab tuan rumah atas pinangan Salman, ”Menerima Anda berdua, sahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang sahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada putri kami.” Yang dipinang pun ternyata berada di sebalik tabir ruang itu. Sang putri shalihah menanti dengan debaran hati yang tak pasti.
”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili putrinya.

”Tapi, karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah, saya menjawab bahwa putri kami menolak pinangan Salman.”

Ah, romansa cinta Salman memang jadi indah di titik ini. Sebuah penolakan pinangan oleh orang yang dicintainya, tapi tidak mencintainya. Salman harus membenturkan dirinya dengan sebuah hukum cinta yang lain, keserasaan. Inilah yang tidak dimiliki antara Salman dan perempuan itu. Rasa itu hanya satu arah saja, bukan sepasang.

Salman ditolak. Padahal dia adalah lelaki shalih. Lelaki yang menurut Ali bin Abi Thalib adalah sosok perbendaharaan ilmu lama dan baru, serta lautan yang tak pernah kering. Ia memang dari Persia, tapi Rasulullah berkata tentangnya,

“Salman Al Farisi dari keluarga kami, ahlul bait.” Lelaki yang bertekad kuat untuk membebaskan dirinya dari perbudakan dengan menebus diri seharga 300 tunas pohon kurma dan 40 uqiyah emas. Lelaki yang dengan kecerdasan pikirnya mengusulkan strategi perang parit dalam Perang Ahzab dan berhasil dimenangkan Islam dengan gemilang. Lelaki yang di kemudian hari dengan penuh amanah melaksanakan tugas dinasnya di Mada’in dengan mengendarai seekor keledai, sendirian. Lelaki yang pernah menolak pembangunan rumah dinas baginya, kecuali sekadar saja. Lelaki yang saking sederhana dalam jabatannya pernah dikira kuli panggul di wilayahnya sendiri. Lelaki yang di ujung sekaratnya merasa terlalu kaya, padahal di rumahnya tidak ada seberapa pun perkakas yang berharga. Lelaki shalih ini, Salman Al Farisi, ditolak pinangannya oleh perempuan yang dicintanya.

Salman ditolak. Alasannya ternyata sederhana saja. Dengarlah.
“Namun, jika Abud Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka putri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan,” kata si ibu perempuan itu melanjutkan perkataannya. Anda mengerti? Si perempuan shalihah itu menolak lelaki shalih peminangnya karena ia mencintai lelaki yang lain. Ia mencintai si pengantar, Abud Darda’. Cinta adalah argumentasi yang shahih untuk menolak.

Ada juga kisah cinta yang lain. Abu Bakar Ash Shiddiq meminang Fathimah binti Muhammad kepada Rasulullah. Ia ingin mempererat kekerabatannya dengan Sang Rasul dengan pinangan itu. Saat itu usia Fathimah menjelang delapan belas tahun. Ia menjadi perempuan yang tumbuh sempurna dan menjadi idaman para lelaki yang ingin menikah. Keluhuran budi, kemuliaan akhlaq, kehormatan keturunan, dan keshalihahan jiwa menjadi penarik yang sangat kuat.

“Saya mohon kepadamu,” kata Abu Bakar kepada Rasulullah sebagaimana dikisahkan Anas dalam Fatimah Az Zahra, “Sudilah kiranya engkau menikahkan Fathimah denganku.” Dalam riwayat lain, Abu Bakar melamar melalui putrinya sekaligus Ummul Mukminin Aisyah.

Mendapat pinangan dari lelaki shalih itu, Rasulullah hanya terdiam dan berpaling. “Sesungguhnya, Fathimah masih kecil,” kata beliau dalam riwayat lain. “Hai Abu Bakar, tunggulah sampai ada keputusan,” kata Rasulullah. Yang terakhir ini diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d dalam Ath Thabaqat. Maksud Rasulullah dengan menunggu keputusan adalah keputusan dari Allah atas kondisi dan keadaan itu, apakah menerima pinangan itu atau tidak.

Ketika Umar bin Khathab mendengar cerita ini dari Abu Bakar langsung, ia mengatakan, “Hai Abu Bakar, beliau menolak pinanganmu.”

Kemudian Umar mengambil kesempatan itu. Ia mendatangi Rasulullah dan menyampaikan pinangannya untuk menikahi Fathimah binti Muhammad. Tujuannya tidak terlalu berbeda dengan Abu Bakar. Bahkan jawaban yang diberikan Rasulullah kepada Umar pun sama dengan jawaban yang diberikan kepada Abu Bakar.
“Sesungguhnya, Fathimah masih kecil,” ujar beliau. “Tunggulah sampai ada keputusan,” kata Rasulullah.
Ketika Abu Bakar mendengar cerita ini dari Umar bin Khathab langsung, ia mengatakan, “Hai Umar, beliau menolak pinanganmu.”

Kita bisa membayangkan itu? Dua orang lelaki paling shalih di masa hidup Rasulullah pun ditolak pinangannya. Abu Bakar adalah sahabat paling utama di antara seluruh sahabat yang ada. Kepercayaannya kepada Islam dan kerasulan begitu murni, tanpa reverse ataupun setitis keraguan. Karena itulah ia mendapat julukan Ash Shiddiq. Ia adalah lelaki yang disebutkan Al Qur’an sebagai pengiring jalan hijrah Rasulullah di dalam gua. Ia adalah dai yang banyak memasukkan para pembesar Mekah dalam pelukan Islam. Ia adalah pembebas budak-budak muslim yang senantiasa tertindas. Ia adalah lelaki yang menginfakkan seluruh hartanya untuk jihad, dan hanya menyisakan Allah dan Rasul-Nya bagi seluruh keluarganya. Ia adalah orang yang ingin diangkat sebagai kekasih oleh Rasulullah. Ia adalah salah satu lelaki yang telah dijamin menginjakkan tumitnya di kesejukan taman jannah. Namun, lelaki shalih ini ditolak pinangannya secara halus oleh Rasulullah.

Sementara, siapa tidak mengenal lelaki shalih lain bernama Umar bin Khathab. Ia adalah pembeda antara kebenaran dan kebathilan. Ia dan Hamzah lah yang telah mengangkat kemuliaan kaum muslimin di masa-masa awal perkembangannya di Mekah. Ia lelaki yang seringkali firasatnya mendahului turunnya wahyu dan ayat-ayat ilahi kepada Rasulullah. Ia adalah lelaki yang dengan keberaniannya menantang kaum musyrikin saat ia akan berangkat hijrah, ia melambungkan nama Islam. Ia lelaki yang sangat mencintai keadilan dan menegakkannya tatkala ia menggantikan posisi Rasulullah dan Abu Bakar di kemudian hari. Ia pula yang di kemudian hari membuka kunci-kunci dunia dan membebaskan negeri-negeri untuk menerima cahaya Islam.

Namun, lelaki shalih ini ditolak pinangannya secara halus oleh Rasulullah.
Mari kita simak kenapa pinangan dua lelaki shalih ini ditolak Rasulullah. Ketika itu, Ali bin Abi Thalib datang menemui Rasulullah. Shahabat-shahabatnya dari Anshar, keluarga, bahkan dalam sebuah riwayat termasuk pula dua lelaki shalih terdahulu mendorongnya untuk datang meminang Fathimah binti Muhammad kepada Rasulullah. Ia menemui Rasulullah dan memberi salam.

“Hai anak Abu Thalib,” sapa Rasulullah pada Ali dengan nama kunyahnya, ”Ada perlu apa?”

Simaklah jawaban lugu yang disampaikan Ali kepada Rasulullah sebagaimana dinukil Ibnu Sa’d dalam Ath Thabaqat.

“Aku terkenang pada Fathimah binti Rasulullah,” katanya lirih hampir tak terdengar. Dengar dan rasakan kepolosan dan kepasrahan dari setiap diksi yang terucap dari Ali bin Abi Thalib itu. Kepolosan dan kepasrahan seorang pecinta akan cintanya yang demikian lama. Ia menggunakan pilihan kata yang sangat lembut di dalam jiwa, “Terkenang.” Kata ini mewakili keterlamaan rasa dan gelora yang terpendam, bertunas menembus langit-langit realita, transliterasi rasa.

“Ahlan wa sahlan!” kata Rasulullah menyambut perkataan Ali. Senyum mengiringi rangkaian kata itu meluncur dari bibir mulia Rasulullah. Kita tidak usah sebingung Ali memahami jawaban Rasulullah. Jawaban itu bermakna bahwa pinangan Ali diterima oleh Rasulullah seperti yang dipahami rekan-rekan Ali.
Mari kita biarkan Ali dengan kebahagiaan diterima pinangannya oleh Rasulullah. Mari kita melihat dari perspektif yang lebih fokus untuk memahami penolakan pinangan dua lelaki shalih sebelumnya dan penerimaan lelaki shalih yang ini. Kita boleh punya pendapat tersendiri tentang masalah ini.
Ketika Rasulullah menjelaskan alasan kepada Abu Bakar dan Umar berupa penolakan halus, kita tidak bisa menerimanya secara letter lijk. Sebab bisa jadi itu adalah bahasa kias yang digunakan Rasulullah. Misalnya ketika Rasulullah mengatakan bahwa Fathimah masih kecil, tentu saja ini tidak bisa diterjemahkan sebagai kecil secara harfiah, sebab saat itu usia Fathimah sudah hampir delapan belas tahun. Sebuah usia yang cukup matang untuk ukuran masa itu dan bangsa Arab. Sementara Rasulullah sendiri berumah tangga dengan Aisyah pada usia setengah usia Fathimah saat itu. Maka, kita harus memahami kalimat penolakan itu sebagai bahasa kias.

Saat Rasulullah meminta Abu Bakar dan Umar bin Khathab untuk menunggu keputusan, ini juga diterjemahkan sebagai penolakan sebagaimana dipahami dua lelaki shalih itu. Jadi, pernyataan Rasulullah itu bukan pernyataan untuk menggantung pinangan, sebab jika pinangan itu digantung, tentu saja Umar dan Ali tidak boleh meminang Fathimah. Pernyataan itu adalah sebuah penolakan halus.

Atau bisa jadi, saat itu Rasulullah punya harapan lain bahwa Ali bin Abi Thalib akan melamar Fathimah. Beliau tahu sebab sejak kecil Ali telah bersamanya dan banyak bergaul dengan Fathimah. Interaksi yang lama dua muda mudi sangat potensial menumbuhkan tunas cinta dan memekarkan kuncup jiwanya. Ini dibuktikan dari pernyataan Rasulullah untuk meminta dua lelaki shalih itu menunggu keputusan Allah tentang pinangannya. Jadi, dalam hal ini kemungkinan Rasulullah mengetahui bahwa putrinya dan Ali telah saling mencintai. Sehingga Rasulullah pun punya harapan pada keduanya untuk menikah. Rasulullah hanya sedang menunggu pinangan Ali. Di masa mendatang sejarah membuktikan ketika Ali dan Fathimah sudah menikah, ia berkata kepada Ali, suaminya,

“Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda.” Saya yakin kita tahu siapa yang dimaksud oleh Fathimah. Ini perspektif saya.

Hal ini diperkuat oleh pernyataan singkat Ali, “Aku terkenang pada Fathimah binti Rasulullah.” Satu kalimat itu sudah mewakili apa yang diinginkan Ali. Rasulullah sangat memahami ini. Beliau adalah seseorang yang sangat peka akan apa-apa yang diinginkan orang lain dari dirinya. Beliau memiliki empati terhadap orang lain dengan demikian kuat. Beliau memahami bentuk sempurna keinginan seseorang seperti Ali dengan beberapa kata saja.

Dan jawaban Rasulullah pun menunjukkan hal yang serupa, “Ahlan wa sahlan!” Ungkapan sambutan selamat datang atas sebuah penantian.

Jadi, dengan perspektif ini, kita akan memahami bahwa lelaki shalih yang datang untuk meminang bisa ditolak pinangannya, tanpa akan menimbulkan fitnah di muka bumi ataupun kerusakan yang meluas. Wanita shalihah yang dipinang Salman Al Farisi telah menunjukkan kepada kita, bahwa ia mencintai Abud Darda’ dan menolak pinangan lelaki shalih dari Persia itu. Rasulullah pun telah menunjukkan pada kita bahwa ia menolak pinangan dua lelaki tershalih di masanya karena Fathimah mencintai lelaki shalih yang lain, Ali Bin Abu Thalib. Di sini, kita belajar bahwa cinta adalah argumentasi yang shahih untuk menolak, dan cinta adalah argumentasi yang shahih untuk mempermudah jalan bagi kedua pecinta berada dalam singgasana pernikahan.

Mari kita dengarkan sebuah kisah yang dikisahkan Ibnu Abbas dan diabadikan oleh Imam Ibnu Majah. Seorang laki-laki datang menemui Rasulullah. “Wahai Rasulullah,” kata lelaki itu,

“Seorang anak yatim perempuan yang dalam tanggunganku telah dipinang dua orang lelaki, ada yang kaya dan ada yang miskin.”

“Kami lebih memilih lelaki kaya,” lanjutnya berkisah, “Tapi dia lebih memilih lelaki yang miskin.” Ia meminta pertimbangan kepada Rasulullah atas sikap yang sebaiknya dilakukannya.

“Kami,” jawab Rasulullah,

“Tidak melihat sesuatu yang lebih baik dari pernikahan bagi dua orang yang saling mencintai, lam nara lil mutahabbaini mitslan nikahi.”

Cinta adalah argumentasi yang shahih untuk menolak. Di telinga dan jiwa lelaki ini, perkataan Rasulullah itu laksana setitis embun di kegersangan hati. Menumbuhkan tunas yang hampir mati diterpa badai kemarau dan panasnya bara api. Seakan-akan Rasulullah mengatakannya khusus hanya untuk dirinya. Seakan-akan Rasulullah mengingatkannya akan ikhtiar dan agar tiada sesal di kemudian hari.

“Cinta itu,” kata Prof. Dr. Abdul Halim Abu Syuqqah dalam Tahrirul Ma’rah fi ‘Ashrir Risalah, “Adalah perasaan yang baik dengan kebaikan tujuan jika tujuannya adalah menikah.” Artinya yang satu menjadikan yang lainnya sebagai teman hidup dalam bingkai pernikahan.

Dengan maksud yang serupa, Imam Al Hakim mencatat bahwa Rasulullah bersabda tentang dua manusia yang saling mencintai. “Tidak ada yang bisa dilihat (lebih indah) oleh orang-orang yang saling mencintai,” kata Rasulullah, “Seperti halnya pernikahan.” Ya, tidak ada yang lebih indah. Ini adalah perkataan Rasulullah. Dan lelaki ini meyakini bahwa perkataan beliau adalah kebenaran. Karena bagi dua orang yang saling mencintai, memang tidak ada yang lebih indah selain pernikahan. Karena cintalah yang menghapus fitnah di muka bumi dan memperbaiki kerusakan yang meluas, insya Allah.

Cinta adalah argumentasi yang shahih untuk menolak, dan cinta adalah argumentasi yang shahih untuk mempermudah jalan bagi kedua pecinta berada dalam singgasana pernikahan.
dakwatuna.com

Kamis, 09 Desember 2010

Selamat hari anti korupsi sedunia [09/12/2010] ; Penyakit korupsi, dari pejabat sampai mahasiswa

Hari ini adalah hari anti korupsi sedunia. Saya jadi ingat dengan sedikit ucapan Ustadz Abu Syauqi saat memberikan tausyiah pada Patlabor Camp 2008, "Antum semua tahu, kenapa Indonesia yang kaya dengan sumber daya melimpah penduduknya bisa banyak yang miskin? Karena di Indonesia sudah terlalu banyak orang jahat!!".

Rasanya penuturan Ustadz Abu tidak terlalu berlebihan. Dari jaman saya SD sampai sekarang, kasus korupsi kerap menjadi momok yang meresahkan rakyat. Tikus-tikus negara terkenal sangat licin dan bebas keluar masuk berbagai instansi bahkan badan penegak hukum. Uang gasakannya pun tidak tanggung-tanggung nominalnya, bisa sampai 13 digit coy!! Sebutlah contohnya buronan koruptor kelas kakap Eddy Tansil yang menggelapkan uang sebesar 565 juta dolar Amerika (sekitar 1,5 triliun rupiah dengan kurs saat itu) yang didapatnya melalui kredit Bank Bapindo melalui grup perusahaan Golden Key Group. Itu baru satu orang, belum yang lainnya.


Terkadang rasa gemas timbul jika melihat POLRI tidak berkutik terhadap makhluk yang satu ini. Beberapa rekan mahasiswa berinisiatif menyampaikan aspirasi di jalanan. Ada juga yang melalui tulisan-tulisan. Namun terkadang saya sendiri tertawa melihat tingkah polah mahasiswa ini. Di jalanan dan tulisan-tulisannya, mereka kerap berteriak 'Ganyang Koruptor', tapi berbeda dengan tingkahnya di dalam kelas perkuliahan. Yup, sebagai mahasiswa yang impresif, saya sangat mengetahui kehidupan mahasiswa di dalam kampus. Praktek korupsi di dalam kelas tidak sedikit terjadi bung. Dari mulai nitip absen sampai mencontek telah menjadi hal yang lumrah di kelas. Begitulah, tanpa disadari kita telah dimanjakan dengan kenikmatan korupsi, korupsi nilai, korupsi daftar presensi, dll.

Kalau ada Bang Arswendo Atmowiloto, mungkin sekarang dia bakal berteriak hahahahhahahahahahaha


untuk rekan-rekan mahasiswa yang kucintai, teguhlah dalam idealismemu secara utuh dan total

Bogor, 09 Desember 2010
Selamat hari anti korupsi sedunia!!!!

Selasa, 07 Desember 2010

Naturalisasi ; Asa di tengah tandusnya prestasi

Beberapa jam lagi, pertandingan sepakbola babak penyisihan antara Indonesia vs Thailand dalam Sea Games AFF Suzuki Cup 2010 akan segera dimulai. Dari liputan sebuah stasiun televisi swasta, terlihat penonton telah berjubal di Gelora Bung Karno. Mereka tentu merasakan gemuruh yang merasuk dada. Sama halnya denganku, rasa gemuruh ini telah hadir sejak aku masih berumur 13 tahun dan kerap membahana setiap kali timnas PSSI berlaga di ajang Internasional. Kini aku tahu bahwa gemuruh itu bernama Nasionalisme.

Yup, mungkin terdengar lebay bagi orang yang tidak mengerti mengenai fanatisme. Namun sesungguhnya itulah seni sepakbola, dimana nama negara terbawa-bawa ke dunia dari sebuah bola yang ukurannya tidak melebihi 50 cm.


Ada hal berbeda dalam tubuh timnas Indonesia kali ini yang sekarang banyak menjadi headline media massa manapun. Jarang sekali timnas PSSI memiliki performa yang sangat baik. Tidak tanggung-tanggung, pada pertandingan sebelumnya, Malaysia di cabik-cabik 5-1 dan Laos di hajar 6-0. Konon katanya, kemenangan ini bisa diperoleh berkat dua orang pemain timnas yang bukan orang Indonesia asli, yakni Irfan Bachdim dan Christian 'el loco' Gonzales. Mereka masuk timnas melalui jalur yang dinamakan naturalisasi (sumber lain menyebutkan bahwa Irfan Bachdim merupakan WNI asli, tidak melalui naturalisasi). banyak yang mengagumi kedua pemain tersebut, namun tidak sedikit juga yang kontra.

"Masa dari 250 juta penduduk Indonesia tidak ada yang sekelas dengan 'el loco' sampai harus di naturalisasi segala? Mau dibawa kemana nama Indonesia...???"

Intinya seperti itulah. Memang 'kasus' naturalisasi ini baru kali ini terjadi di Indonesia. Sepintas naturalisasi terlihat seperti langkah instan PSSI. Bukan langkah instan bro, tapi ikhtiar. Yah, terserah orang berpendapat apa, yang jelas kalau memang pemain naturalisasi bisa membuktikan kontribusi dan komitmennya untuk Indonesia, kenapa tidak..? Bahkan mereka saja hafal lagu Indonesia Raya =).

Ayooo el loco, cetak gol yang banyak..!! Oktovianus, kasih umpan yang ajib dah..!! Markus, jangan sampai kebobolan lagi..!! Maman, jangan gentar adu body sama lawan, Thailand doang ceteklah..!!! Ridwan, cetak gol lagi, jangan kalah sama Irfan..!! Boaz Solosa, aku tunggu aksimu pada kompetisi mendatang..!! Bravo Sepakbola Indonesia...!!!!

Bogor, 07 Desember 2010
Beberapa menit sebelum lagu Indonesia raya berkumandang di SUGBK

Senin, 06 Desember 2010

Mencetak pemimpin jurnalis selanjutnya..!

seorang pemimpin yang baik adalah orang yang mampu menyiapkan pemimpin-pemimpin baru yang akan menggantikannya esok

Alhamdulillah, ga' kerasa sebentar lagi saya lengser dari posisi Kadept Kominfo Bindes KM. Agak sedih juga menanggalkan jabatan yang telah banyak memberi manfaat. Nama saya cukup mencuat setelah menyandang jabatan ini (hehehe..). Selain itu, jabatan ini memaksa saya untuk menempa karakter, meningkatkan skill, menjalin koneksi, bahkan membuat saya semakin cinta dengan Bindes (dengan si dia juga tentunya,, ehem.. ehem..)

Saya coba membuka-buka kembali folder Kominfo dalam laptop. Semua data masih komplit! Press Release jadul sejak masa pembekalan sampai kegiatan Village Health and Clean ada. Buletin dari edisi perdana pun masih ada. File-file desain sertifikat dan plakat tertata rapih dalam folder terpisah, jadi ga' ribet pas diminta Nissa (sang sekretaris umum yang paling rewel soal progress report). Sampai folder Majalah Suara Desa teranyar semua masih lengkap. Terkenang semua susah payah selama dua tahun bertugas.

Sejenak saya tertegun melihat buah tangan saya selama ini. Tampaknya saya melakukan kesalahan fatal sebagai seorang pimpinan. Ya, saya baru sadar bahwa hampir tidak ada desain dan tulisan yang dibuat anggota Kominfo yang lain..!!! Lalu siapa yang akan membuat buletin edisi selanjutnya, siapa yang akan mendesain baliho dan spanduk publikasi, siapa yang akan mendesain kaos dan sertifikat, siapa yang akan menulis dan mengedit Press Release, siapa yang akan menulis wacana dan opini di blog maupun di media massa........?

Itulah salah satu blunder yang lagi-lagi saya buat. Dulu saya pernah membuat kesalahan yang sama saat melepas amanah sebagai Kadept Syiar Media di DKM Nurul Khomsah. Meski demikian, kini saya tidak merasa terlambat. Masih ada waktu sampai tanggal 19 Desember 2010 untuk mencetak pemimpin jurnalis baru, pemimpin yang kelak akan dan harus menjadi lebih tangguh dari diriku. Dengan demikian, saya baru bisa lengser dengan terhormat.

Jamee, Irma, Tika, Kukuh, Dita, ayo kita belajar menulis dan mendesain....!!

Bogor, 06 Desember 2010
ditemani guyuran hujan senja pukul 15.59 pm

Minggu, 05 Desember 2010

Petani no.1, cita-cita yang melayang di angkasa

Saat menulis postingan ini, tepat sekali jet audio mendendangkan lagu Berdiri Teman, lagu karya Close Head yang sampai sekarang saya sendiri tidak tahu darimana band ini berasal. Hanya saja lagu ini membawa saya ke dalam kenangan ketika pertama kali menanam asa untuk menjadi Petani no.1. Saat itu, saya masih kelas XII di salah satu SMA terbaik di Bandung (katanya..!), SMAN 5 Bandung.

Sama sekali tidak terpikirkan untuk menjadi seorang petani. Setidaknya, sampai akhir semester 5, saya masih berambisi untuk melanjutkan kuliah di Jurusan Teknik Elektro ITB. Entah kenapa saya sangat berambisi masuk ke sana, mungkin pengaruh orang lain juga sih (ajakan Kang Rino yang sudah masuk duluan ke T.Elektro ITB tahun 2007).

Pikiran saya terombang-ambing oleh sebuah berita di televisi yang menyiarkan bencana kekurangan pangan. Seakan ada bisikan yang mengatakan, "orang lapar tidak butuh rangkaian elektro, tapi butuh beras". Kata-kata singkat namun merasuk dalam benak dan pikiran. Hingga akhirnya, saya memantapkan diri akan menjadi seorang petani. Salah satu jalannya, dengan melepas pilihan masuk T.Elektro ITB dan memilih jurusan Teknik Pertanian Institut Pertanian Bogor.

Begitulah awal mula cita-cita menjadi Petani no.1 tertanam dalam hati. Sulit sekali mendefinisikan arti Petani no.1, namun suatu saat, Anda ataupun semua orang di seluruh dunia kelak akan mengerti arti Petani no.1 itu.

Goresan Petani no.1 di tangan (10 Maret 2008)

Goresan Petani no.1 di semen saat Praktikum Terpadu Mekanika dan Bahan Teknik (26 Maret 2010)

 Goresan Petani no.1 di pasir pantai Cikepuh saat Eksplorasi UKF 2010 (23 Mei 2010) 

Bogor, 06 Desember 2010
di atas kasur kamar 31 Wisma Alma