Kamis, 04 April 2013

Hubungan rpm dan daya (power) - Part 2: Torsi sebagai gaya pada gerak rotasi

Sebelum melangkah kepada perdebatan hubungan rpm dan daya, saya akan menjelaskan terlebih dahulu apa itu torsi, karena inilah yang akan membuka gerbang pemahaman hal tersebut.

Dalam tulisan sebuah web (yang sepertinya hasil terjemahan), dijelaskan bahwa informalnya, torsi dapat dipikir sebagai gaya rotasional. Analog rotational dari gaya, masa, dan percepatan adalah torsi, momen inertia dan percepatan angular. Dengan kata lain, torsi bisa dikatakan sebagai kebutuhan gaya pada suatu sistem gerak rotasi.

Jika dirumuskan torsi sama dengan gaya dikalikan dengan jarak dari titik tengah bidang (istilah lainnya lengan gaya). Artinya torsi minimum untuk memutarkan sebuah benda, ada pada ujung benda yang bebas (di mana ujung benda yang bebas merupakan jarak terjauh dari titik tengah benda/jarak terjauh lengan gaya).


Sebagai contoh sederhana, perhatikan pintu sebuah rumah. Anggaplah lebar pintu 0.70 m. Pintu tersebut bisa dibuka jika didorong dengan gaya minimum 10 N pada ujung pintu. Artinya torsi minimum untuk membuka pintu itu sebesar 7 Nm. Bagaimana jika seseorang ingin membuka pintu dengan mendorong bagian tengahnya (bukan mendorong bagian ujung pintu). Tetap saja torsi yang dibutuhkan sebesar 7 Nm, namun karena jarak lengan gaya menjadi 0.35 m (setengah dari lebar pintu), maka gaya minimum yang diberikan harus lebih besar, yaitu menjadi 20 N (agar memenuhi kebutuhan torsi minimum). Maka dari itu mengapa lebih mudah membuka pintu jika didorong dari ujung ketimbang dari tengah.

Lalu, bagaimana kaitan torsi ini dengan Power atau Daya? Insya Allah akan dilanjutkan pada part berikutnya.

referensi : http://juniortune.blogspot.com/2011/05/daya-dan-torsi.html

Hubungan rpm dan daya (power) - Part 1: Introduce

Malam-malam begini saya teringat dengan kisah unik bersama sahabat-sahabat di TEP saat akan menghadapi monev PKMT. Kala itu terjadi perbincangan serius, yakni sebuah kekhawatiran akan pertanyaan dari panelis saat monev. Pasalnya, mesin pemisah salut pala yang kita bikin, benar-benar tidak mengikuti kaidah perancangan teknik (kalau istilah orang belajar, learn from the hard way). Mesin kami dibuat tanpa hitung-hitungan serta analisis yang sempurna.

Sampai akhirnya salah seorang anggota kami, Bhekti, berkata : "Kalo nanti ditanya 'kenapa kalian menggunakan motor listrik berdaya 1 hp dan kecepatan putar 1400 rpm?', jawabnya gimana?". Saat itulah kami mulai terdiam, dan mencari-cari pembenaran, menghitung-hitung berkaitan hal tersebut, syukur-syukur hitungannya benar. Entah apa yang saat itu ditulis pada akhirnya (jika ada kesempatan, akan saya posting).

Hampir 1 tahun berlalu dari waktu itu, yaitu malam ini, saya iseng ingin mengetahui hal yang mengganjal dulu. Saya sempat berpikir bahwa rpm dan daya saling mempengaruhi secara berbanding lurus. Artinya, semakin besar rpm, power akan semakin besar. Karena kita butuh daya 1 hp, maka rpm-nya harus 1400 rpm. tapi kenapa ada motor listrik yang rpm-nya hanya 1200 rpm tapi dayanya 1 hp? Ada juga yang 1400 rpm dengan daya 0,5 hp.

Setelah melalui berbagai pengulikan panjang, akhirnya saya mendapatkan bahwa memang ada hubungan antara rpm dan power. Namun dalam perancangan, salah satu dari variabel tersebut direncanakan, sehingga hanya variabel lainnya yang dicari tahu. Insya Allah akan saya bahas bagaimana hubungan power dan rpm, dan juga nantinya akan saya kaitkan dengan perancangan mesin PKMT tahun lalu. Mungkin akan menghasilkan banyak postingan (karena penjelasannya cukup ribet), untuk itu saya bagi menjadi beberapa Part.

Rabu, 03 April 2013

Mudahnya membuat paspor tanpa calo

Beberapa hari yang lalu, saya melihat iklan layanan ditjen imigrasi di salah satu stasiun TV swasta. Dalam iklan tersebut, disampaikan bahwa ditjen imigrasi bertekad meningkatkan pelayanan pembuatan paspor hanya satu hari, wow!

Jadi teringet pada bulan Maret lalu, saya bergerilya di kantor imigrasi kelas II Bogor untuk membuat paspor. Awalnya saya merasa ragu bisa selesai dengan cepat, apalagi banyak selentingan dari sahabat-sahabat dekat saya bahwa pelayanan bikin paspor bisa sampai berbulan-bulan kalo ngga lewat "jalur belakang". Ditambah lagi antriannya bisa sangat panjang.

Akhirnya, dengan bermodalkan segala fotokopian berkas yang dibutuhkan serta mempelajari pengalaman orang di internet, saya mendaftar pembuatan paspor. Dan ternyata, tidak sesulit dan selama yang dibayangkan! Total waktu dari awal mendaftar sampai paspor jadi yaitu 2 minggu, sedangkan biaya yang dikeluarkan untuk paspor 48 halaman hanya Rp 255.000,-.

Secara umum, ada 3 tahap saat membuat paspor.

Tahap 1 : Pendaftaran (Hari ke-1)
Formulir pendaftaran bisa didapatkan di kantor imigrasi yang bersangkutan. Berkas yang dibutuhkan untuk tahap pendaftaran adalah fotokopi akta kelahiran, kartu keluarga, dan KTP. Namun karena KTP saya dikeluarkan di Bandung dan saya membuat paspor di Bogor, maka ditambahkan fotokopi Kartu Tanda Mahasiswa (atau surat keterangan domisili bagi yang bukan mahasiswa).

Setelah semua berkas siap, ambil nomor antrian untuk pendaftaran. Selanjutnya tinggal menunggu panggilan ke loket pemeriksaan berkas, kemudian kita akan dipersilahkan datang kembali pada proses tahap 2, yaitu foto dan wawancara. Biasanya proses tahap 2 ini dilakukan seminggu setelah pendaftaran (berbeda tergantung tempat). Sebagai catatan, semua berkas harus berbentuk kertas A4 utuh, jadi fotokopi KTP maupun KTM jangan digunting, biarkan saja utuh.

Tahap 2 : Foto dan wawancara (Hari ke-8)
Pada tahap ini, pastikan berkas asli saat pendaftaran harus turut dibawa. Pengalaman saya kemarin, saya tidak membawa akta kelahiran asli sehingga harus balik lagi ke kosan. Namun untuk kartu keluarga, karena yang aslinya ada di Bandung, petugasnya bisa memaklumi.

Seperti biasa, ambil nomor antrian untuk foto dan wawancara (berbeda dengan nomor antrian pendaftaran). Setelah dipanggil, saya diminta membayar biaya administrasi sebesar Rp 255.000,-, baru setelah itu saya bisa di foto. Foto di paspor sebenarnya harus formal dan elegan. Saya sempat ditegur petugas imigrasi karena menggunakan kaos bola ketika hendak di foto. Akhirnya saya disuruh memakai jaket agar 'sedikit' lebih formal, huehehe.

Proses selanjutnya yaitu wawancara, disinilah akan diperiksa semua dokumen asli dan data pada paspor, apakah telah sesuai atau tidak. Kata bapak petugas imigrasi yang melayani saya, hal ini sangat penting karena dalam paspor tidak boleh ada sedikitpun salah ketik (baik nama, alamat, dan keterangan lainnya). Dalam pikiran saya, ketat bener yah bikin identitas internasional itu.

Selain pemeriksaan berkas, wawancara ini menanyakan tujuan kita mau kemana, mau ngapain, berapa lama. Mungkin untuk meminimalisir tindak kriminal kali yah. Setelah proses wawancara selesai, saya dipersilahkan kembali seminggu kemudian untuk mengambil paspor.

Tahap 3 : Pengambilan paspor (Hari ke-15)
Finally, paspor gw jadi!!


xxx

Beberapa hal yang menjadi catatan :
- Paspor ini sebenarnya bisa diambil 4 hari setelah foto (menurut prosedur di web ditjen imigrasi). Namun ternyata pengambilan paspor ini dijadwalkan hari dan jamnya. Menurut saya hal ini bertujuan menghindari ledakan antrian yang mau ngambil paspor, sehingga dilakukan penjadwalan dengan kuota per hari sekian orang.
- Nomor antrian pendaftaran dan antrian foto + wawancara dibatasi per hari hanya sampai nomor 150, ini juga dimungkinkan bertujuan memberi rasa nyaman bagi pembuat paspor, sehingga ngga perlu desak-desakan dalam kantor imigrasi yang luasnya tidak lebih besar dari ruangan bioskop.
- Untuk mengantisipasinya, kalo perlu dateng setengah jam sebelum kantor buka, karena biasanya jama-jama segitupun sudah pada ngantri di depan pinta masuk.
- Pendaftaran bisa dilakukan melalui on-line, prosesnya kurang lebih sama seperti tahap 1, sehingga nantinya tinggal datang pas tahap foto dan wawancara (1 minggu setelah daftar)
- Jangan pernah percaya pada calo yang menawarkan pembuatan paspor instan. Lebih baik ikuti prosedur legal, lebih aman lebih murah :).

Rabu, 22 Juni 2011

Perbedaan Scientist dan Engineer

Suatu ketika, ada seorang gadis yang tengah diperebutkan oleh dua orang laki-laki. Laki-laki yang pertama seorang ilmuwan, sedangkan yang lainnya berprofesi sebagai engineer. Untuk menentukan siapa yang berhak menjadi pasangannya, sang gadis memberikan statement untuk dilakukan kedua laki-laki tersebut. Sang gadis berkata, “Di antara kalian berdua, siapa saja yang mampu mencapai tempatku berdiri sekarang adalah laki-laki yang kelak aku nikahi. Tapi dengan syarat, kalian hanya bisa mendekat ke arahku sejauh setengah jarak dari posisi awal kalian sampai tempat aku berdiri. Setelah itu kalian mendekat setengah jarak lagi. Lalu mendekat setengah jarak lagi, dan seterusnya hingga kalian dapat mencapai tempat aku berdiri.

Sang ilmuwan mencobanya. Ia berdiri agak jauh dari si gadis. Lalu berjalan sejauh setengah jarak mendekat ke arah gadis. Setelah itu, dia bergerak lagi setengah jarak. Lalu bergerak lagi setengah jarak, hingga dia berdiri sangat dekat dengan sang gadis. Namun tiba-tiba dia berteriak, “Hal ini selamanya tidak akan bisa terjadi karena sesuatu jika terus di bagi dua tidak akan pernah menjadi nol. Aku menyerah.”

Berganti sang engineer yang berdiri berjauhan dari si gadis. Ia melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan si ilmuwan. Sampai saat dia berdiri sangat dekat dengan sang gadis, lalu ia memeluknya sambil berkata, “Sesuatu yang terus dibagi dua hingga menjadi nominal yang sangat kecil bagiku sama saja dengan nol. Kini aku telah ada di tempatmu berdiri.”

Kamis, 19 Mei 2011

Trauma dan akan terus menjadi trauma, huaaahhhh!!!!

Entah kenapa gw selalu merasakan ketakutan setiap melewati student center FMIPA. Bahkan kalau dari Fateta ingin ke arah gymnasium, gw lebih memilih arah memutar lewat Fahutan. Ketakutan yang sama aku hadapi setiap membuka jejaring social facebook. Takut membaca status-status orang, karena takut status **** terbaca. Status yang selalu penuh makna ambigu dan kerap membingungkan gw yang selalu khawatir terhadap hal-hal yang tidak pasti.

Aku jadi ingat kata-kata dia dulu, sesuatu yang tidak pasti itu sangat membuat tidak enak.. Kini gw merasakan hal tersebut sepenuhnya... trauma,, dan akan terus menjadi trauma..

*seketika aku merasakan bahagia seketika pula aku merasakan kecemasan. hidup seperti ini sungguh memuakkan!!!!!*


(diiringi lagu Chrisye - Kangen)


Selasa, 03 Mei 2011

Kupu-kupu Kertas

Warnanya putih, sayapnya rupawan meski tak seimbang. Tangan mungil bocah kecil membentuknya sedemikian rupa hingga rampung. Kupu-kupu kertas, begitulah sebutannya.

Dengan bermodalkan kertas putih satu lembar saja, si anak bisa membuat dua buah kupu-kupu kertas. Dia menggantungnya di jendela kamarnya. Setiap hari bertambah banyak. Kupu-kupu kertas di jendelanya beruntai dengan jumlah yang tidak sama. Untaian pertama berjumlah 15 buah, untaian berikutnya ada yang berjumlah 10, ada juga yang 5.

Setelah selesai, si anak mengambil selembar kertas lagi. Ia merobek kertas itu menjadi dua bagian. Melipatnya kesana kemari, membentuk kembali dua buah kupu-kupu kertas.

Angin meniupkan kupu-kupu kertas di jendela. Untaian tampak kokoh sehingga tak goyah walau diterpanya. Angin mengguncangkan pohonan, menyahut kesunyian pondok besar megah. Pondok alam dari jerami namun tampak megah bagi insan penuh syukur.

Kupu-kupu kertas terlahir kembali dari tangan bocah kecil. Angin iri melihatnya. Ia menuntun awan kelam membawa butiran air yang berat ke atas pondokan. Bagai lampu dunia gemerlap air melemparkan amarah. Ia tumpahkan kekesalannya, laksana bah menerpa bumi.

Untaian tetap kokoh, namun tanpa kupu-kupu kertas. Kupu-kupu kertas tergolek tak berdaya di atas lantai kelabu. Si anak bengong melihatnya. Ia mengambil selembar kertas kembali dan dibentuknya menjadi kupu-kupu kertas yang baru.

Sementara langit masih menuangkan amarah, si anak menggantungkan kupu-kupu kertas yang baru itu dalam untaian panjang di jendela kamarnya. Amukan langit kembali menggolekkan kupu-kupu kertas itu dan membumikannya.

Si anak tidak berhenti mengambil selembar kertas, lalu dibentuk lagi menjadi dua buah kupu-kupu kertas. Menggantungkannya di untaian jendela, dan terhempas di lantai dingin. Begitu seterusnya, begitu seterusnya. Hingga akhirnya angin mengalah. Melalui celah pohonan ia melesat menjauh, malu, tabu untuk menatap balik.
Si anak berdiri. Di raihnya kupu-kupu kertas yang terbaring di lantai yang dingin. Dia membentuknya lagi menjadi kupu-kupu kertas seadanya. Walau sobek, basah, lusuh, dia tetap membentuk dan menggantungnya dalam untai benang kasur di jendela.

Seraya membuat kupu-kupu kertas itu terhidup kembali, ia mendendangkan beberapa bait nada sumbang

Hei, si cicak selalu diganggu buaya, namun dia selalu bisa menang. Hei dia banyak akalnya, tak ragu putuskan ekornya. Hei, mimpi-mimpi yang merangkai jutaan kisah hidupnya. Hei, engkau terwujud karena perlawanan, bukan dengan kekerasan.

23-11-2009

Selasa, 12 April 2011

It's all because love

*Judul Asli : Kisah cinta sahabat Nabi, salman al farizi "Argumentasi, Lelaki Shalih, dan Cinta"*

“Bila seorang laki-laki yang kamu ridhai agama dan akhlaqnya meminang,” kata Rasulullah mengandaikan sebuah kejadian sebagaimana dinukil Imam At Tirmidzi, “Maka, nikahkanlah dia.” Rasulullah memaksudkan perkataannya tentang lelaki shalih yang datang meminang putri seseorang.

“Apabila engkau tidak menikahkannya,” lanjut beliau tentang pinangan lelaki shalih itu, “Niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang meluas.” Di sini Rasulullah mengabarkan sebuah ancaman atau konsekuensi jika pinangan lelaki shalih itu ditolak oleh pihak yang dipinang. Ancamannya disebutkan secara umum berupa fitnah di muka bumi dan meluasnya kerusakan.

Bisa jadi perkataan Rasulullah ini menjadi hal yang sangat berat bagi para orangtua dan putri-putri mereka, terlebih lagi jika ancaman jika tidak menurutinya adalah fitnah dan kerusakan yang meluas di muka bumi. Kita bisa mengira-ngira jenis kerusakan apa yang akan muncul jika seseorang yang berniat melamar seseorang karena mempertahankan kesucian dirinya dan dihalang-halangi serta dipersulit urusan pernikahannya. Inilah salah satu jenis kerusakan yang banyak terjadi di dunia modern ini, meskipun banyak di antara mereka tidak meminang siapapun.

“Saya,” katanya dengan aksen Madinah memperkenalkan diri pada pihak perempuan, “Adalah Abud Darda’."

“Dan ini,” ujarnya seraya memperkenalkan si pelamar, “Adalah saudara saya, Salman Al Farisi.” Yang diperkenalkan tetap membisu. Jantungnya berdebar.

“Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya,” tutur Abud Darda’ dengan fasih dan terang.

“Adalah kehormatan bagi kami,” jawab tuan rumah atas pinangan Salman, ”Menerima Anda berdua, sahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang sahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada putri kami.” Yang dipinang pun ternyata berada di sebalik tabir ruang itu. Sang putri shalihah menanti dengan debaran hati yang tak pasti.
”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili putrinya.

”Tapi, karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah, saya menjawab bahwa putri kami menolak pinangan Salman.”

Ah, romansa cinta Salman memang jadi indah di titik ini. Sebuah penolakan pinangan oleh orang yang dicintainya, tapi tidak mencintainya. Salman harus membenturkan dirinya dengan sebuah hukum cinta yang lain, keserasaan. Inilah yang tidak dimiliki antara Salman dan perempuan itu. Rasa itu hanya satu arah saja, bukan sepasang.

Salman ditolak. Padahal dia adalah lelaki shalih. Lelaki yang menurut Ali bin Abi Thalib adalah sosok perbendaharaan ilmu lama dan baru, serta lautan yang tak pernah kering. Ia memang dari Persia, tapi Rasulullah berkata tentangnya,

“Salman Al Farisi dari keluarga kami, ahlul bait.” Lelaki yang bertekad kuat untuk membebaskan dirinya dari perbudakan dengan menebus diri seharga 300 tunas pohon kurma dan 40 uqiyah emas. Lelaki yang dengan kecerdasan pikirnya mengusulkan strategi perang parit dalam Perang Ahzab dan berhasil dimenangkan Islam dengan gemilang. Lelaki yang di kemudian hari dengan penuh amanah melaksanakan tugas dinasnya di Mada’in dengan mengendarai seekor keledai, sendirian. Lelaki yang pernah menolak pembangunan rumah dinas baginya, kecuali sekadar saja. Lelaki yang saking sederhana dalam jabatannya pernah dikira kuli panggul di wilayahnya sendiri. Lelaki yang di ujung sekaratnya merasa terlalu kaya, padahal di rumahnya tidak ada seberapa pun perkakas yang berharga. Lelaki shalih ini, Salman Al Farisi, ditolak pinangannya oleh perempuan yang dicintanya.

Salman ditolak. Alasannya ternyata sederhana saja. Dengarlah.
“Namun, jika Abud Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka putri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan,” kata si ibu perempuan itu melanjutkan perkataannya. Anda mengerti? Si perempuan shalihah itu menolak lelaki shalih peminangnya karena ia mencintai lelaki yang lain. Ia mencintai si pengantar, Abud Darda’. Cinta adalah argumentasi yang shahih untuk menolak.

Ada juga kisah cinta yang lain. Abu Bakar Ash Shiddiq meminang Fathimah binti Muhammad kepada Rasulullah. Ia ingin mempererat kekerabatannya dengan Sang Rasul dengan pinangan itu. Saat itu usia Fathimah menjelang delapan belas tahun. Ia menjadi perempuan yang tumbuh sempurna dan menjadi idaman para lelaki yang ingin menikah. Keluhuran budi, kemuliaan akhlaq, kehormatan keturunan, dan keshalihahan jiwa menjadi penarik yang sangat kuat.

“Saya mohon kepadamu,” kata Abu Bakar kepada Rasulullah sebagaimana dikisahkan Anas dalam Fatimah Az Zahra, “Sudilah kiranya engkau menikahkan Fathimah denganku.” Dalam riwayat lain, Abu Bakar melamar melalui putrinya sekaligus Ummul Mukminin Aisyah.

Mendapat pinangan dari lelaki shalih itu, Rasulullah hanya terdiam dan berpaling. “Sesungguhnya, Fathimah masih kecil,” kata beliau dalam riwayat lain. “Hai Abu Bakar, tunggulah sampai ada keputusan,” kata Rasulullah. Yang terakhir ini diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d dalam Ath Thabaqat. Maksud Rasulullah dengan menunggu keputusan adalah keputusan dari Allah atas kondisi dan keadaan itu, apakah menerima pinangan itu atau tidak.

Ketika Umar bin Khathab mendengar cerita ini dari Abu Bakar langsung, ia mengatakan, “Hai Abu Bakar, beliau menolak pinanganmu.”

Kemudian Umar mengambil kesempatan itu. Ia mendatangi Rasulullah dan menyampaikan pinangannya untuk menikahi Fathimah binti Muhammad. Tujuannya tidak terlalu berbeda dengan Abu Bakar. Bahkan jawaban yang diberikan Rasulullah kepada Umar pun sama dengan jawaban yang diberikan kepada Abu Bakar.
“Sesungguhnya, Fathimah masih kecil,” ujar beliau. “Tunggulah sampai ada keputusan,” kata Rasulullah.
Ketika Abu Bakar mendengar cerita ini dari Umar bin Khathab langsung, ia mengatakan, “Hai Umar, beliau menolak pinanganmu.”

Kita bisa membayangkan itu? Dua orang lelaki paling shalih di masa hidup Rasulullah pun ditolak pinangannya. Abu Bakar adalah sahabat paling utama di antara seluruh sahabat yang ada. Kepercayaannya kepada Islam dan kerasulan begitu murni, tanpa reverse ataupun setitis keraguan. Karena itulah ia mendapat julukan Ash Shiddiq. Ia adalah lelaki yang disebutkan Al Qur’an sebagai pengiring jalan hijrah Rasulullah di dalam gua. Ia adalah dai yang banyak memasukkan para pembesar Mekah dalam pelukan Islam. Ia adalah pembebas budak-budak muslim yang senantiasa tertindas. Ia adalah lelaki yang menginfakkan seluruh hartanya untuk jihad, dan hanya menyisakan Allah dan Rasul-Nya bagi seluruh keluarganya. Ia adalah orang yang ingin diangkat sebagai kekasih oleh Rasulullah. Ia adalah salah satu lelaki yang telah dijamin menginjakkan tumitnya di kesejukan taman jannah. Namun, lelaki shalih ini ditolak pinangannya secara halus oleh Rasulullah.

Sementara, siapa tidak mengenal lelaki shalih lain bernama Umar bin Khathab. Ia adalah pembeda antara kebenaran dan kebathilan. Ia dan Hamzah lah yang telah mengangkat kemuliaan kaum muslimin di masa-masa awal perkembangannya di Mekah. Ia lelaki yang seringkali firasatnya mendahului turunnya wahyu dan ayat-ayat ilahi kepada Rasulullah. Ia adalah lelaki yang dengan keberaniannya menantang kaum musyrikin saat ia akan berangkat hijrah, ia melambungkan nama Islam. Ia lelaki yang sangat mencintai keadilan dan menegakkannya tatkala ia menggantikan posisi Rasulullah dan Abu Bakar di kemudian hari. Ia pula yang di kemudian hari membuka kunci-kunci dunia dan membebaskan negeri-negeri untuk menerima cahaya Islam.

Namun, lelaki shalih ini ditolak pinangannya secara halus oleh Rasulullah.
Mari kita simak kenapa pinangan dua lelaki shalih ini ditolak Rasulullah. Ketika itu, Ali bin Abi Thalib datang menemui Rasulullah. Shahabat-shahabatnya dari Anshar, keluarga, bahkan dalam sebuah riwayat termasuk pula dua lelaki shalih terdahulu mendorongnya untuk datang meminang Fathimah binti Muhammad kepada Rasulullah. Ia menemui Rasulullah dan memberi salam.

“Hai anak Abu Thalib,” sapa Rasulullah pada Ali dengan nama kunyahnya, ”Ada perlu apa?”

Simaklah jawaban lugu yang disampaikan Ali kepada Rasulullah sebagaimana dinukil Ibnu Sa’d dalam Ath Thabaqat.

“Aku terkenang pada Fathimah binti Rasulullah,” katanya lirih hampir tak terdengar. Dengar dan rasakan kepolosan dan kepasrahan dari setiap diksi yang terucap dari Ali bin Abi Thalib itu. Kepolosan dan kepasrahan seorang pecinta akan cintanya yang demikian lama. Ia menggunakan pilihan kata yang sangat lembut di dalam jiwa, “Terkenang.” Kata ini mewakili keterlamaan rasa dan gelora yang terpendam, bertunas menembus langit-langit realita, transliterasi rasa.

“Ahlan wa sahlan!” kata Rasulullah menyambut perkataan Ali. Senyum mengiringi rangkaian kata itu meluncur dari bibir mulia Rasulullah. Kita tidak usah sebingung Ali memahami jawaban Rasulullah. Jawaban itu bermakna bahwa pinangan Ali diterima oleh Rasulullah seperti yang dipahami rekan-rekan Ali.
Mari kita biarkan Ali dengan kebahagiaan diterima pinangannya oleh Rasulullah. Mari kita melihat dari perspektif yang lebih fokus untuk memahami penolakan pinangan dua lelaki shalih sebelumnya dan penerimaan lelaki shalih yang ini. Kita boleh punya pendapat tersendiri tentang masalah ini.
Ketika Rasulullah menjelaskan alasan kepada Abu Bakar dan Umar berupa penolakan halus, kita tidak bisa menerimanya secara letter lijk. Sebab bisa jadi itu adalah bahasa kias yang digunakan Rasulullah. Misalnya ketika Rasulullah mengatakan bahwa Fathimah masih kecil, tentu saja ini tidak bisa diterjemahkan sebagai kecil secara harfiah, sebab saat itu usia Fathimah sudah hampir delapan belas tahun. Sebuah usia yang cukup matang untuk ukuran masa itu dan bangsa Arab. Sementara Rasulullah sendiri berumah tangga dengan Aisyah pada usia setengah usia Fathimah saat itu. Maka, kita harus memahami kalimat penolakan itu sebagai bahasa kias.

Saat Rasulullah meminta Abu Bakar dan Umar bin Khathab untuk menunggu keputusan, ini juga diterjemahkan sebagai penolakan sebagaimana dipahami dua lelaki shalih itu. Jadi, pernyataan Rasulullah itu bukan pernyataan untuk menggantung pinangan, sebab jika pinangan itu digantung, tentu saja Umar dan Ali tidak boleh meminang Fathimah. Pernyataan itu adalah sebuah penolakan halus.

Atau bisa jadi, saat itu Rasulullah punya harapan lain bahwa Ali bin Abi Thalib akan melamar Fathimah. Beliau tahu sebab sejak kecil Ali telah bersamanya dan banyak bergaul dengan Fathimah. Interaksi yang lama dua muda mudi sangat potensial menumbuhkan tunas cinta dan memekarkan kuncup jiwanya. Ini dibuktikan dari pernyataan Rasulullah untuk meminta dua lelaki shalih itu menunggu keputusan Allah tentang pinangannya. Jadi, dalam hal ini kemungkinan Rasulullah mengetahui bahwa putrinya dan Ali telah saling mencintai. Sehingga Rasulullah pun punya harapan pada keduanya untuk menikah. Rasulullah hanya sedang menunggu pinangan Ali. Di masa mendatang sejarah membuktikan ketika Ali dan Fathimah sudah menikah, ia berkata kepada Ali, suaminya,

“Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda.” Saya yakin kita tahu siapa yang dimaksud oleh Fathimah. Ini perspektif saya.

Hal ini diperkuat oleh pernyataan singkat Ali, “Aku terkenang pada Fathimah binti Rasulullah.” Satu kalimat itu sudah mewakili apa yang diinginkan Ali. Rasulullah sangat memahami ini. Beliau adalah seseorang yang sangat peka akan apa-apa yang diinginkan orang lain dari dirinya. Beliau memiliki empati terhadap orang lain dengan demikian kuat. Beliau memahami bentuk sempurna keinginan seseorang seperti Ali dengan beberapa kata saja.

Dan jawaban Rasulullah pun menunjukkan hal yang serupa, “Ahlan wa sahlan!” Ungkapan sambutan selamat datang atas sebuah penantian.

Jadi, dengan perspektif ini, kita akan memahami bahwa lelaki shalih yang datang untuk meminang bisa ditolak pinangannya, tanpa akan menimbulkan fitnah di muka bumi ataupun kerusakan yang meluas. Wanita shalihah yang dipinang Salman Al Farisi telah menunjukkan kepada kita, bahwa ia mencintai Abud Darda’ dan menolak pinangan lelaki shalih dari Persia itu. Rasulullah pun telah menunjukkan pada kita bahwa ia menolak pinangan dua lelaki tershalih di masanya karena Fathimah mencintai lelaki shalih yang lain, Ali Bin Abu Thalib. Di sini, kita belajar bahwa cinta adalah argumentasi yang shahih untuk menolak, dan cinta adalah argumentasi yang shahih untuk mempermudah jalan bagi kedua pecinta berada dalam singgasana pernikahan.

Mari kita dengarkan sebuah kisah yang dikisahkan Ibnu Abbas dan diabadikan oleh Imam Ibnu Majah. Seorang laki-laki datang menemui Rasulullah. “Wahai Rasulullah,” kata lelaki itu,

“Seorang anak yatim perempuan yang dalam tanggunganku telah dipinang dua orang lelaki, ada yang kaya dan ada yang miskin.”

“Kami lebih memilih lelaki kaya,” lanjutnya berkisah, “Tapi dia lebih memilih lelaki yang miskin.” Ia meminta pertimbangan kepada Rasulullah atas sikap yang sebaiknya dilakukannya.

“Kami,” jawab Rasulullah,

“Tidak melihat sesuatu yang lebih baik dari pernikahan bagi dua orang yang saling mencintai, lam nara lil mutahabbaini mitslan nikahi.”

Cinta adalah argumentasi yang shahih untuk menolak. Di telinga dan jiwa lelaki ini, perkataan Rasulullah itu laksana setitis embun di kegersangan hati. Menumbuhkan tunas yang hampir mati diterpa badai kemarau dan panasnya bara api. Seakan-akan Rasulullah mengatakannya khusus hanya untuk dirinya. Seakan-akan Rasulullah mengingatkannya akan ikhtiar dan agar tiada sesal di kemudian hari.

“Cinta itu,” kata Prof. Dr. Abdul Halim Abu Syuqqah dalam Tahrirul Ma’rah fi ‘Ashrir Risalah, “Adalah perasaan yang baik dengan kebaikan tujuan jika tujuannya adalah menikah.” Artinya yang satu menjadikan yang lainnya sebagai teman hidup dalam bingkai pernikahan.

Dengan maksud yang serupa, Imam Al Hakim mencatat bahwa Rasulullah bersabda tentang dua manusia yang saling mencintai. “Tidak ada yang bisa dilihat (lebih indah) oleh orang-orang yang saling mencintai,” kata Rasulullah, “Seperti halnya pernikahan.” Ya, tidak ada yang lebih indah. Ini adalah perkataan Rasulullah. Dan lelaki ini meyakini bahwa perkataan beliau adalah kebenaran. Karena bagi dua orang yang saling mencintai, memang tidak ada yang lebih indah selain pernikahan. Karena cintalah yang menghapus fitnah di muka bumi dan memperbaiki kerusakan yang meluas, insya Allah.

Cinta adalah argumentasi yang shahih untuk menolak, dan cinta adalah argumentasi yang shahih untuk mempermudah jalan bagi kedua pecinta berada dalam singgasana pernikahan.
dakwatuna.com